Tadi di debat cawapres ada salah satu pertanyaan dari moderator yang kira2 seperti ini: “Bagaimana caranya menyatukan bangsa Indonesia yg bermacam suku, agama, budaya, wilayah, dll. agar tidak terjadi perpecahan ataupun konflik horisontal?”. Bisa ditebak, jawaban semua cawapres normatif. Bahkan ada cawapres yang ketika ditanya apapun, ujung-ujungnya tetep menyampaikan masalah ekonomi.
) (note: dia menyampaikan masalah, tapi belum menyampaikan solusi kongkritnya apa.)
Tadinya saya ingin ngajak main cawapres2an sama teman2 di plurk. Kita coba jawab pertanyaan2 yg disampaikan moderator seandainya kita jadi cawapres yg sedang debat. Biar fair, waktu iklan kita langsung posting jawaban versi kita di plurk. Spontanitas, ga pake mikir lama. Cukup fair kan? hehe. Tapi kq ya ribet, nanti malah ngga konsen nonton debatnya. Ide gagal terealisasi. ![]()
Tapi tadi saya sempat coba main2 sendiri. Mencoba menjawab pertanyaan itu secara spontan, setidaknya dalam hati. Untuk pertanyaan yg saya tulis di awal postingan ini, saya berpikir untuk menjawab seperti ini:
bla..bla..bla…Sebenarnya yang diperlukan oleh suatu organisasi (organisasi dalam arti luas= sekumpulan orang dalam satu wadah yg memiliki tujuan yg sama. Bisa negara, geng pertemanan, perusahaan, etc), untuk tetap solid adalah adanya common enemy. Musuh bersama. Contoh dalam skala besar bisa kita lihat bangsa kita dahulu di masa penjajahan. Bangsa kita bisa bersatu dan meminimalisir konflik internal karena adanya musuh bersama, yaitu kaum imperialis. “Tak peduli Anda dari suku apa dan agama apa, selama Anda orang pribumi yang sama2 menderita karena penjajah, maka Anda adalah teman saya. Kita bersama2 untuk mengusir musuh kita: Belanda”. See..perbedaan dan masalah2 lain menjadi tidak terlalu penting. Yang penting adalah “Usir penjajah dari tanah kita!”.
Tapi ketika common enemy itu hilang, mulailah muncul benih2 perpecahan. Ketika Belanda sudah berhasil diusir, muncullah konflik2 internal seperti misalnya: gesekan antara elite yg berbeda pandangan politik (nasionalis & islam), dst.
Contoh lain dalam skala yang lebih kecil bisa kita lihat dalam pertandingan sepakbola. Ketika tim nasional Indonesia bertanding di Piala Asia melawan Bahrain, semua orang di indonesia bersatu, merasa senasib sepenanggungan untuk mendukung timnas. Tak terkecuali kelompok2 suporter yang biasanya tak pernah akur semacam The Jak-nya Persija dan Viking-nya Persib. Untuk sementara, semua kelompok suporter damai2 saja duduk bersebelahan di tribun Gelora Bung Karno. Berjingkrak dan bersorak bersama meneriakkan “Indonesia!”, bahkan saling berpelukan ketika Bambang Pamungkas mencetak gol ke gawang Bahrain. Kenapa? Karena ada common enemy: Bahrain. Tetapi ketika Piala Asia berakhir, common enemy sudah tidak ada, hehehe…aksi lempar batu antar suporter tak akan terlalu sulit untuk kita cari.
So, kita butuh common enemy. The question is “siapa common enemy kita sekarang?”.
*1. Dengan normatif saya akan berkata* Kemiskinan! Kebodohan! Koruptor!, kita harus jadikan itu sebagai common enemy kita, bla, bla, bla….
*2. Dengan tanpa pikir panjang efeknya saya akan bilang* Malaysia!!
*3. Tapi kalau mau jujur dan agak nyengir, seharusnya saya bilang* hmm…ya itu dia..kita sekarang ngga punya common enemy yang benar2 real bisa kita lihat untuk membangkitkan semangat persatuan dan rasa senasib sepenanggungan kita, kecuali…di saat2 tertentu..seperti event sepakbola, piala thomas & uber, olimpiade, dan event2 olah raga lain.
*Tiba-tiba tim sukses saya yg duduk di sebelah pojok barisan depan kursi penonton mengedip-ngedipkan mata, memberi kode seakan2 berkata ‘hus..hus..ini debat cawapres bukan debat calon menteri olahraga’.
Akhirnya, karena ini berfikir bahwa ini hanya retorika, maka saya memilih jawaban no.1, sambil menggerutu ‘ini yg jadi cawapres siapa si? mau pidato, naskahnya dibikinin tim sukses. mau jawab, dikasih kode. jangan2 nanti yg memilih menteri dan menyusun RAPBN adalah tim sukses dan konsultan politik jg.’*
Demikianlah kira2 ketika saya main2 menjadi cawapres.
Bagaimana dengan Anda? Mau jawab apa?
Apa yang bisa kita pelajari dari angka-angka ini? banyak. Salah satunya, dari sisi teknis, adalah perencanaan reliability server. Seberapa kuat server kita menangani akses yang demikian besar seperti itu? Bagaimana menangani kasus ketika server kita dibanjiri oleh traffic yang sedemikian besar. Ini mengingatkan saya pada event ‘Download day’-nya Firefox 3 beberapa bulan yang lalu. Untuk menangani request yang diprediksi akan membludak, Firefox sudah menyiapkan distributed sever dan miror-miror server untuk mendownload Firefox 3. Hal ini tentu untuk mencegah terjadinya ’server down’ ketika diakses oleh begitu banyak user. Seberapa rame event Download day-nya Firefox 3? Lebih dari 8 juta orang mendownload Firefox 3 dalam satu hari!! 